Cerita Inspirasi

Posted in Academic on September 15th, 2010 by astrid.miradiyas10

Astrid Miradiyas Permatasari/C14100032/laskar 18

Bahasa Inggris

Terkadang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, seringkali kita mesti berhubungan dengan sesuatu yang tidak diinginkan. Terlebih jika hal itu selalu  menjadi syarat utama. Menjadi syarat yang menentukan lulus atau tidak. Menjadi syarat utama yang menentukan sukses atau tidak. Dan segala macam apa dengan tidaknya. Mungkin untuk orang lain itu mudah. Sedangkan, kita harus mencapainya dengan kerja keras. Melakukan ini itu sebagai tambahan untuk meningkatkan kualitasnya. Ya, memang untuk mencapai segala sesuatu itu ada harganya.

Walau saya sadar seperti yang telah saya katakan diatas, tetap saja saya tidak terlalu menyukai bahasa inggris. Yap saya tidak menyukai mungkin mendekati benci dengan bahasa inggris. Jika ingin masuk ini, harus menguasai bahasa inggris. Jika ingin masuk itu,  harus menguasai bahasa inggris. Sekali lagi digaris bawah, harus. Haha mungkin bagi anda ini sepele. Tapi tidak bagi saya.

Pertama kali saya mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris secara resmi dari sekolah di SD. Itupun ketika kelas 5 atau 6. Lupa saya. Yang bisa saya ingat hanya, ketika pelajaran kelas itu digabung. Sehingga kami mesti duduk bertiga atau bahkan berempat jika muat. Untung hanya 2 kelas. Kemudian gurunya. Entah orang mana yang pasti ngajarnya yang bisa saya ingat, beliau suka gebuk-gebuk. Yah kedua hal itu sudah membuat saya cukup tidak menyukai Bahasa Inggris. Belum ditambah hal-hal lain.

Rupanya di SMP saya ketemu lagi dengan pelajaran ini. Di kelas 7 awal saya mulai menyukai pelajaran ini sedikit. Walau nilai saya tetap dikisaran aman. Kemudian tidak berapa lama pengajar di kelas saya tidak masuk karena sakit. Beliau diganti pengajar kelas 8 dan 9. Tetap saja boleh dibilang kemampuan saya berbahasa inggris tidak begitu meningkat. Walau nilai saya tetap aman. Rupanya di kelas 8 pengajar pengganti itu –sebut saja Mrs. XX- yang mengajar. Bahkan jadi wali kelas. Well, mungkin bagi anda Bahasa Inggris itu mudah. Tapi tidak bagi saya. Ketika beliau menjadi wali kelas –bukan bermaksud merendahkannya- ketika terima rapot semester pertama, nilai saya turun.  Angka merah yang tercetak. Dan bukan sembarang angka merah, haha. Sebuah kursi. Saya hanya membukanya sedikit buku rapot itu, dan segera menutupnya kembali. Membukanya sedikit saja sudah membuat saya down. Apalagi kalau lebar-lebar. Entah bagaimana jadinya jika yang mengambil orangtua saya. Mungkin hingga sekarang orangtua saya tak tahu hal itu. Saya lupa disampaikan atau tidaknya.

Entah apa yang salah. Cara pengajarannya? Sepertinya di kelas suka memakai cara nyanyi-nyanyi. Suasananya? Kelas biasalah kalau sedikit ribut. Orangnya? Bukan bermaksud rasis. Atau memang dari awal saya sendiri yang salah? Yang pasti saya harus kejar. Saya harus bangkit. Saya tidak boleh mengecawakan orang tua saya. Semester 2 pembagian rapot, nilai saya meningkat. Walau hingga kini saya tetap tidak terlalu menyukai Bahasa Inggris. Namun, ketika Ujian Nasional SMA–entah harus senang atau tidak- Bahasa Inggris yang menyokong nilai saya. Dan, terkadang saya suka menyanyikan salah satu lagu ‘kebangsaan’ Mrs. XX –ini lagunya how are you today, how are you today…I’m fine thank you… lets a speak English, lets a speak English…come enjoy with me… horay…horay… speak English its fun…horay…horay…come enjoy with me!!– untuk menaikkan semangat belajar Bahasa Inggris. Ya, memang untuk mencapai segala sesuatu itu ada harganya.

Cerita Inspirasi 2

Anne Sullivan

Mungkin anda pernah mendengar nama Helen Keller. Seorang yang terlahir normal namun karena terkena penyakit menjadi buta dan tuli seumur hidupnya. Perubahan itu begitu drastis. Sehingga, beliau menjadi liar dan tak terkendali. Dalam keadaan seperti itu, beliau dapat menjadi orang cacat pertama yang meraih sarjana, seorang penulis, aktivis politik dan dosen Amerika.

Entah bagaimana ceritanya jika Helen Keller tidak bertemu dengan Annie Sullivan. Singkat cerita, orang tua Helen membawanya ke sebuah sekolah khusus untuk mereka yang cacat dan salah satu gurunya bernama Anne Sullivan. Berkat bimbingan Anne Sullivan bertahun-tahun, tidak hanya dalam hal pendidikan tetapi juga penanaman nilai-nilai gambar diri yang sehat, Helen Keller berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat magna cumlaude.

Diperlukan kesabaran, kesetiaan, dan pengorbanan yang besar dari Annie Sullivan. Beliau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membantu Helen, yang bisa dibilang mempunyai kekurangan. Tanpa kenal lelah, membantu Helen. Dan tanpa ada hubungan darah dengan Helen. Hal yang sangat sulit dicari saat ini.

Lalu, Mengapa Anne Sullivan bisa begitu sabar membimbing Helen Keller? Ternyata Anne semenjak kecil juga mengalami gangguan penglihatan. Selain itu masa kecil Anne begitu menderita, ibunya meninggal ketika ia berusia 8 tahun dan ayahnya adalah seorang pemabuk yang gemar menyiksa Anne. Bahkan ketika berusia 10 tahun, ayahnya menginggalkan Anne begitu saja. Singkat cerita ketika Anne berusia 14 tahun ia masuk ke sekolah khusus orang cacat (yang nantinya menjadi guru Keller di sekolah ini). Disana dia sempat mengalami operasi mata, meski tidak pulih 100%, Anne memperoleh sedikit penglihatannya. Dan pada usianya yang ke-20 Anne bertemu Helen Keller dan menjadi guru sekaligus pembimbing hidupnya.

Setahun sebelum meninggal, Anne menderita buta secara permanen. Dan pada tanggal 20 Oktober 1936, Anne Sullivan meninggal dunia di Forrest Hill, New York. Dengan Helen berada disampingnya. Helen yang hidup sampai beberapa puluh tahun kedepan, -untuk melanjutkan perjuangan yang telah beliau lakukan dengan Anne- menyewa beberapa orang untuk membantu pekerjaannya. Dan ketika Helen meninggal pada tahun 1968, abunya diletakkan di sebelah Anne di Washinton National Cathedral.

Astrid Miradiyas Permatasari

C14100032

laskar 18

pelatihan TI

Posted in Pelatihan TI on July 27th, 2010 by astrid.miradiyas10

di cyber student center